Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Masa yang singkat, masa yang tidak boleh disia-siakan dengan hal-hal negatif. Maka, perilaku negatif tidak boleh pula menemani di masa-masa ini. Karena, jika berani melanggarnya, sisa hidup akan merugi dan meratapi segala hal negatif yang pernah dilakukan di masa muda dulu.
Lebih baik, persiapkan masa muda itu dengan melatih serta mengembangkan potensi yang sudah diberi oleh Allah SWT. Selain sebagai salah satu bentuk syukur kita terhadap segala potensi dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT tersebut, juga sebagai aktifitas diri untuk mengarungi hidup dengan prestasi dan menuju arah yang diridhai olehNya.
Masa muda adalah masa yang rentan di mana masa tersebut seseorang sangat mudah terpengaruh dengan factor-faktor dari luar. Ketika di masa muda tersebut kita tidak bisa menyikapi perubahan, maka kita akan tergilas oleh perubahan itu. Jika orang lain berprestasi hebat, kita hanya bisa bertepuk tangan dan menonton.
Sebuah cerita Si Kodok Rebus penuh motivasi bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan kodok di tengah danau. Pada suatu ketika, ada angin puting beliung menerjang kerajaan sang kodok hingga porak poranda. Sang kodok berusaha menyelamatkan diri dengan keluar dari danau dan berusaha menjauhi areal yang terkena bencana. Akhirnya, sampailah ia di pemukiman penduduk dan masuk ke dalam sebuah rumah. Sang kodok mengira rumah tersebut kosong. Maka, ia berusaha menjelajahi rumah yang ditinggalkan penghuninya itu untuk mengecek keadaan. Tak lama kemudian, ia berhasil masuk ke sebuah panci di atas tungku yang berisi air. Alangkah senangnya ia, karena mendapatkan daerah yang menyerupai habitat asalnya.
Tiba-tiba, sang penghuni rumah datang dan langsung menyalakan tungku tersebut tanpa memperhatikan adanya seekor kodok di dalam panci. Hal ini terjadi karena penerangan yang sangat terbatas. Sang kodok sangat menikmati adanya kenaikan suhu pada air tersebut. Air menjadi hangat dan sang kodok pun berenang ke sana kemari dengan riang gembira. Sang kodok demikian terlena sehingga suhu yang demikian naik menjadikan ia kepanasan. Lemas dan akhirnya mati terebus.
Hikmah utama yang dapat dipetik dari kisah dunia binatang di atas adalah tentang strategi dalam menghadapi perubahan. Kisah tersebut membuka keran kesadaran kita tentang pentingnya memahami perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Banyak generasi muda yang cuek alias tidak bereaksi apapun terhadap perubahan yang terjadi. Nasib akhir dari seseorang model cuek sama perubahan seperti ini adalah seperti kodok tadi.
Ia beranggapan bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya (biasa-biasa saja). Tanpa disadari, ia tergilas oleh perubahan itu. Inilah masalah yang sering terjadi di generasi muda. Sudah banyak yang kehilangan Sense of Urgency (SoU)-nya, yaitu dorongan untuk melakukan sesuatu demi memperbaiki diri atau keadaan. Pada tahap tertentu dan tahap sudah terlalu parah, baru banyak anak muda yang sadar bahwa mereka harus berubah. Tetapi, saat mereka menyadari hal tersebut, semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.
Padahal, jika kita mengaku sebagai makhluk yang bernama manusia, mau tidak mau, kita melalui hidup dari detik ke detik. Dan dari detik ke detik itu perubahan selalu terjadi. Dengan demikian, penerapan strategi dalam menghadapi perubahan mutlak dijalankan. Setiap hari, kita diharuskan melakukan adaptasi untuk menghadapi perubahan yang terjadi sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini dengan penuh prestasi.
Berubah memang tidak gampang. Akan tetapi, untuk berubah bukanlah suatu hal yang mustahil alias tidak mungkin. Dengan tekad dan semangat yang menggebu untuk berubah, Allah SWT akan menunjukkan jalan yang terang kepadamu.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
Ada Trilogi Perubahan yang sederhana tapi sakti, yang sakti tapi hanya berpola sederhana:
1. Mulai dari Diri Sendiri.
Salah satu dari tujuh kebiasaan efektif orang-orang sukses menurut Sean Covey yang menulis buku Seven Habits adalah bertindak proaktif, yaitu merupakan sikap bertanggungjawab terhadap pilihannya sendiri. Berpikir sebelum bertindak dan focus terhadap hal-hal yang tidak dapat diubah, serta tidak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak dapat diubah. Fokus terhadap hal-hal yang mungkin untuk dilakukan dan bukan focus kepada hal-hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.
2. Mulai dari Sesuatu yang Kecil.
Think big, start small! Karena perjalanan beribu-ribu mil dimulai dari langkah secuil. Perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit dengan perubahan yang bersifat drastis akan lebih ringan perubahan setahap demi setahap karena akan terasa lebih ringan.
Covey menyarankan dengan “asahlah gergajimu”. Ini ditujukan untuk semua orang agar selalu mengasah sikap dan perilaku positif yang berhasil dibentuknya sehingga menjadi suatu kebiasaan hidup yang baik.
3. Mulai Sekarang Juga.
Act, now! Mulailah sekarang, kapan lagi? Menunggu semangat datang? Atau menunggu mood mampir? Apabila niat baik telah ditetapkan, hendaknya setiap kita sesegera mungkin mewujudkan niat tersebut. Apabila niat baik mengalami penundaan apalagi beberapa kali, biasanya niat tersebut akan luntur bahkan hilang. Dengan dimulainya perubahan sesegera mungkin, akan tercipta kebiasaan baru yang memungkinkan kehidupan lebih terasa bermanfaat dan menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar